kacapi

Kacapi

Makassar’s kecapi is traditional musical instrument of Makassar, South Sulawesi, Indonesia. This instrument look like guitar but kecapi only have two strings. Makassar’s kecapi is also the instrument used by Mandar and Bugis people.

pinisi-besar-1

Hari Baik dan Hari Buruk dalam Budaya Sulawesi (1)

Dalam kepercayaan Masyarakat Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, terdapat istilah hari baik dan hari buruk. dimana pada hari-hari tertentu yang dianggap sebagai hari buruk sangat pantang untuk melakukan kegiatan seperti memulai pembuatan kapal atau berangkat karena dianggap dapat menyebabkan kesialan. Pengetahuan tentang hari baik dan buruk ini merupakan salah satu kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang pelaut dalam budaya Sulawesi seperti telah dibahas sebelumnya pada postingan “Sulawesi dan Pengetahuan Kelautan“.

Penentuan mengenai hari baik maupun hari buruk ini yakni berdasarkan pada bulan qamariyah. Selain itu, mereka juga percaya bahwa setiap hari secara kualitatif mengandung makna sendiri bagi kehidupan (Abu Hamid: 1992). Berikut tujuh hari nakhas dalam satu bulan (qamariyah), dimana pada hari-hari ini sangat pantang untuk berangkat dan membuat perahu:

  1. Malam pertama,
  2. ketiga,
  3. kesembilan,
  4. kesembilan belas,
  5. keduapuluh sembilan,
  6. hari rabu terakhir setiap bulan, dan
  7. pada tanggal 1 Muharram.

Selain hari-hari di atas, setiap harinya juga di anggap mengandung makna sendiri sehingga dapat dibagi menjadi lima bagian yaitu:

  1. Subuh (ele),
  2. pagi (abbuweng-baribbasa’),
  3. siang hari /tegah hari (tangasso),
  4. lewat tengah hari (lesang esso), dan
  5. sore (araweng-karuweng).

Berdasarkan pembagian tersebut, sangat pantang untuk melakukan kegiatan atau urusan yang menyangkut keberuntungan pada hari jumat subuh , hari sabtu tengah ahri dan hari senin sore, karena dianggap bisa menimbulkan kematian (Abu Hamid: 1992).

Pemilihan hari baik atau hari buruk ini tidak hanya dipergunakan dalam kehidupan yang erat kaitannya dengan laut. Tetapi juga digunkan dibanyak bidang kehidupan bermasyarakat seperti proses pembangunan rumah dan upacara-upacara adat lainnya.

>>Hari Baik dan Hari Buruk dalam Budaya Sulawesi (2)

Referensi:
Demo Pinisi: Presenatasi Ilmiah, Kajian Teknologi ,Estetika dan Antropologi Perahu Pinisi serta Navigasi Pelayaran Tradisioanl Sulawesi Selatan: 1992

Film: Badik Titipan Ayah

snap shoot "Badik Titipan Ayah"

snap shoot “Badik Titipan Ayah”

Baru-baru ini saya ngotak-atik isi komputer di sekretariat UKSS (Unit Kesenian Sulawesi Selatan). Tiba-tiba saya menemukan sebuah folder bernama “Badik Titipan Ayah”. Setelah saya buka, ternyata itu adalah sebuah film yang belakangan saya tahun dari teman-teman seunit bahwa film itu udah lama banget. Ya… sekitar beberpa tahun yang lalu lah.Karena penasaran, akhirnya saya nonton juga.

Film ini bercerita tentang tentang budaya Sulawesi khususunya Bugis-Makassar yang sangat menjunjung tinggi martabak keluarga. Berikut sinopsi filmnya yg saya ambil dari berita.maiwanews.com.
…Karaeng Tiro (diperankan oleh Aspar Paturusi) dan istrinya Karaeng Caya (Widyawati) dilanda prahara keluarga yang sangat memalukan (siri’). Anak gadis tunggal mereka mereka Andi Tenri (Tika Bravia) kawin lari (silariang) dengan kekasihnya Firman (Guntara Hidayat). Karaeng Tiro lalu meminta anak lelaki tunggalnya Andi Aso (Reza Rahadian) untuk menyelesaikan persoalan tersebut melalui “jalan adat” Bugis-Makassar: jalan yang menggunakan badik. Bagi orang Bugis-Makassar, persoalan siri’ adalah persoalan adat, dan harus diselesaikan secara adat. Tugas Andi Aso tersebut didampingi oleh anak angkat Karaeng Tiro bernama Limpo (Ilham Anwar). Berhasilkah Andi Aso dan Limpo menemukan Andi Tenri dan Firman? Apa yang akan terjadi antara Andi Aso dan Firman? Apa yang akan dilakukan LIMPO untuk membela martabat keluarga yang telah menghidupinya sejak kecil? Yang jelas, kemungkinan besar terjadi pertumpahan darah. Itu lantaran masih terdapat anutan prinsip bahwa BADIK terhunus pantang disarungkan sebelum menyesaikan “tugas”nya menegakkan martabat keluarga.

Siri’ na pacce adalah budya yang begitu di junjung di Sulawesi, dimana orang tidak akan segan untuk membunuh demi mengembalikan harga dirinya . Sayangnya, sekarang banya yang menempatkan siri’ na pacce bukan pada tempatnya. Misalnya tawuran mahasiswa yang belakanga sering terjadi.
Ada sebuah kutipan mernarik dalam film ini yang sempat saya catat, yaitu:

“…apa artinya hidup jika benci yang menjadi raja. Apakah puas bisa membuat darah tumpah dan nyawa lepas dari orang yang kita benci? Apakah perasaan itu yg akan kita rawat dan dibawa sampai mati?…”

Malam Budaya EWAKO

EWAKO 2012Aga kareba? EWAKO! Hahahaha :D, bisa dikatakan bulan ini adalah bulan terEWAKO yang pernah saya alami. Apa lagi pada saat Malam Budaya EWAKO kemarin. Dari awal sampai akhir acara tidak henti-hentinya kata EWAKO diteriakkan dengan penuh semangat.
Bagi masyarakat makassar mungkin ketika mendengar kata EWAKO akan langsung mengingat sebuah jargon atau mungkin nyayian penyemangat dari club bola asal Makassar, yaitu PSM (Ewako! PSM). Tapi untuk sebagian orang mungkin lebih mengenal EWAKO sebagai kata sapaan sekaligus penyemangat yang khas yang mewakili kota Makassar layaknya kata Horas bagi masyarakat Medan.

Nah, buat kata EWAKO yang dibawa oleh UKSS ITB (Unit Kesenian Sulawesi Selatan ITB) tidak lain adalah sebuah branding untuk memperkenalkan kekayaan budaya Sulawesi kepada masyarakat Indonesia.

Pada malam kemarin, tepatnya tanggal 18 November 2012. Setelah melalui persiapan yang penuh suka duka (lebay, Hahaha :D) pelaksanaan Malam Budaya EWAKO 2012 berlangsung sangat meriah. Acara ini dilaksankan di Sabuga ITB (Sasana Budaya Ganesha ITB). Acara Malam Budaya EWAKO 2012 ini diawali dengan penampilan APRES ITB yang membawakan lagu daerah Makassar dan kemudian pembukaan Malam Budaya EWAKO 2012 secara resmi oleh UKSS dengan Rampa’ Gendang dan penyalaan lampu bertuliskan EWAKO.

Bukan cuma tari dan lagu daerah yang ditampilkan disini, Pada Malam Budaya EWAKO juga ditampilkan Drama tentang  kisah cinta antara We Sangiang dan I Wangkawani, dimana dalam cerita ini terdapat sebuah pesan yaitu Siri’ Na Pacce’*. yang merupakan budaya masyarakat Sulawesi.

Selain UKSS dan APRES, tampil juga unit-unit kesenian Sulawesi dari Universitas lain yang ada di Bandung. Adi Naff juga tampil dalam acara ini, dengan membawakan lagu daerah Sulawesi Selatan.

NB:

Terimakasih buat teman-teman caUKSS 2012. Maaf yah, kemarin penampilannya kurang memuaskan. Hehehe :D